SISTEMATIKA BERFIKIR FILSAFAT ILMU: ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI

Oleh : IMMawan M.  Salma Abdul Aziz

Manusia sebagai makhluk yang diberi tuhan kelebihan untuk dapat berfikir sebebas-bebasnya dengan akalnya dapat melakuakan banyak hal. Mencari hakikat hidupnya, mengetahui asal mula yang ada, atau mungkin meragukan dan mempertanyakan tuhanya. Tentu dalam berfikir memerlukan alur yang jelas sehingga mempermudah proses dalam menemukan jawaban. Akan rumit ketika kita berfikir tanpa struktur,pembahasan premis A bisa saja melenceng ke C atau bahkan X. Dengan alasan tersebut pembahasan mengenai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi (selanjutnya disingkat OEA) ada.

Sistematika berfikir dengn OEA ini banyak didapati pembahasanya dalam filsafat ilmu yang menjelaskan bagaimana suatu pengetahuan bisa disebut ilmu, mencari keilmiahan, cenderung positivis dan membelenggu akal. Terang sudah di zaman sekarang suatu pengetahuan dapat disebut ilmu jika telah melalui serangkaian metode analisa dan verifikasi, dengan hasil akhir ilmu yang ‘ilmiah’. Walau sistem berfikir OEA merupakan produk dari filsafat ilmu, namun tetap menggunakan penalaran sebagai modal utamanya, sehingga tidak melenceng terlalu jauh dari kaidah berfikir kefilsafatan yang coba menggunakan akal bebas untuk berfikir.

Tahap pertama dalam aplikasi OEA adalah ontologi. Segala sesuatu yang ‘ada’ (being) memiliki hakikat dalam dirinya itu sendiri, yang tampak maupun tidak. Ontologi adalah tahap dasar untuk mencari hakikat suatu yang ada. Berarti dia (ontologi, ed) merupakan bagian pembahasan metafisika, yang melampaui ‘ada’. Tanpa mengetahui hakikat suatu benda misal, kita takkan sampai pada pembahasan tentang bagaimana benda itu bisa ada atau apa kegunaanya.

Lanjut ketahap kedua yaitu Epistemologi. Setelah hakikat sebuah benda diketahui, akan dilanjut dengan pencarian tentang kausalitas (asal ususl ‘ada’, ed), metode yang digunakan, serta kebenaran hasil pemikiran. Aspek-aspek tersebut masuk kedalam pembahasan epistemologi. Di tahap ini pulalah orang-orang biasanya memulai berfikir, tanpa mengetahui hakikat objek pembahasan mereka. Sehingga tidak heran kadang terjadi kebuntuan berfikir karena ngomongke Gusti nanging ora mudeng Gusti ki opo.

Tahap terakhir yaitu Aksiologi, yang intinya adalah penerapan atau fungsi dan valensi dari kebenaran yang didapat dalam tahap-tahap sebelumnya. Dalam Aksi-nya, ilmu bisa jadi malaikat atau iblis. Dia malikat Ketika ilmu itu bermanfaat bagi manusia (itu pulalah hakikat ilmu) , dan iblis saat ilmu malah mendehumanisasi manusia.

REFLEKSI

Berfikir dengan Ontologi, Epistemolog, Aksiologi memang membantu untuk berfikir lebih terstruktur. Namun bukan berarti hal itu adalah cara tunggal untuk mencari kebenaran. Penulis sendiri kurang menyukai metode-metode ‘ilmiah’ yang cenderung mengkotak-kotakan kemampuan dan kebebasan berfikir manusia. Tak salah feyerabend menyuarakan Anarkisme Epistemologis yang menolak segala metode tentang pencarian kebenaran. Baginya biarlah ilmu itu berkembang biak tanpa sekat, sekat metode, relasi kuasa, kelas dan hal-hal lainya. lets anything goes. Bukankah tukang becak pun memiliki kearifan sendiri dalam pandangan hidupnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s