IL PRINCIPLE NICCOLO (MACHIAVELLI)

Oleh : IMMawan M. Salma Abdul Aziz

 

“Buku pedoman para dictator” kata-kata yang tepat untuk menyebut buku ini. Buku karangan seorang yang masuk dalam jajaran 100 orang paling berpengaruh di dunia menurut Michael hart , Niccolo Machiavelli. Secara garis besar buku ini berisi cerita-cerita kepemimpinan para pangeran jaman dahulu yang penuh dengan konflik, kekejaman ,penipuan, dan lain-lain. Buku ini juga membahas bagaimana menjadi seorang pangeran yang baik, missal, apakah seorang pangeran itu harus di cintai atau di takuti. Buku ini dibuat oleh nico sebagai persembahan kepada keluarga medici yang berkuasa di Florence italia pada saat itu. “ngapain kita baca buku dictator kaya gini?” tentu bukan untuk menjadikan pembacanya sebagai dictator, tapi lebih untuk bagaimana kita mengetahui logika-logika yang para dictator lakukan.

Ada banyak jenis pemerintahan yang tercantum dalam buku ini. Dimana setiap jenisnya memiliki kelebihan dan kekurangan tertentu. Kerajaan adalah salah satu contohnya, yang menurut Machiavelli adalah pemerintahan yang penguasanya adalahketurunan dari penguasa terdahulu. Bagaimana kerajaan yang berasal dari satu keluarga mempertahankan kekuasaanya dapat dibilang cukup mudah daripada kerajaan yang baru berdiri, karena  jelaslah apabila raja baru ini kurang dari pendahulunya, maka raja itu dapat segera jatuh. Contoh adalah duke Ferrara yang mampu bertahan dari serangan venesia pada 1484 dan dari paus Julius pada 1510 karena kekuaasaan keluarganya di dominion yang ia tempati.

Bagaimana cara menjadi pangeran yang baik di kupas di buku ini. Mulai dari pondasi yang harus dimiliki oleh seorang pangeran, sampai bagaimana cara menjadi pangeran yang ditakuti atau dicintai untuk mempertahankan kekuasaanya. Pemikiran Machiavelli sebenarnya adalah “Bagaimana seorang pangeran mempertahankan kekuasaanya dengan melakukan apapun, hal kejam dapat diterima untuk mempertahankan kekuasaan itu”, yang di hari ini pemikiran tersebut sering disebut degan istilah ‘politik machiavelli’ . Machiavelli mengatakan ada 2 cara untuk mempertahankan kekuasaan di wilayah yang baru setelah penguasa sebelumnya dijatuhkan, yaitu , habisi semua darah keturunan penguasa sebelumnya dan jangan sampai merubah uu dan peraturan perpajakan yang telah ada karena kalu dirubah dengan tidak hati-hati maka pangeran baru akan memiliki masalah dengan orang-orang atau para bangsawan yang diuntungkan dengan peraturan sebelumnya.

Banyak cara dapat dilakukan untuk mempertahankan daerah yang sudah dikuasai, satu yang menarik adalah dengan membentuk sebuah koloni didaerah itu karena jika tidak maka pangeran harus meletakkan sejumlah pasukan disan yang tentu akan memperlemah penjagaan pangeran sendiri. Hancurkan 1 atau2 lokasi berbeda yang ada di daerah itu untuk menempatkan orang-orang kita. Meski ada sebagian rakyat yang dirugikan karena rumah-rumah mereka dihancurkan, tapi itu hanya sebagian kecil, dan mereka yang rumahnya tidak dihancurkan dapat dengan mudah ditenangkan karena ketakutan akan diperlakukan seperti orang-orang yang sudah di hancurkan tempatnya.

Ada sebuah perkataan Machiavelli yang patut dipertimbangkan, “manusia harus dicintai atau dihancurkan: mereka akan menuntut balas atas luka ringan mereka, namun mereka takan melakukanya ktika terluka parah”. Maksud dari perkataan ini adalah jika seorang pangeran ingin merebut kekuasaan suatu wilayah, maka dia harus benar-benar menghabisi para penguasa yang ada disitu, karena jika tidak mereka yang tersisa mungkin akan membalas yang telah dilakukan terhadap mereka, dan tiu tentu merepotkan. Walau setelah penghancuran itu dilakukan, rakyat akan menakuti pangeran yang baru. Tapi bagi Machiavelli itu lebih baik daripada menumbuhkan cinta dimasyarakatnya, karena cinta itu memiliki tujuan, dan ketika tujuan itu tercapai maka sudah pula hal itu. Sedangkan rasa takut akan terus bercokol dan orang yang takut pasti akan loyal kepada yang ditakuti

Politik juga sangat penting dalam mempertahnkan kekuasaan. Contoh kekuasaan prancis pada waktu itu, Prancis tidak memiliki kemampuan politik yang jika mereka punya maka tidak akan membiarkan gereja untuk menjadi besar yang kelak akan meruntuhkanya dengan pasukan ‘doktrin’ nya.

Menurut Machiavelli krajaan-kerajaan dalam sejarah diperintah dengan 2 cara: Oleh seorang pangeran dan para pembantunya yaitu mentri dan seorang pangeran dengan para baronnya yang setiap baron diberi wilayah tertentu untuk diurusi. Contohnya adalah turki yang pemerintahanya dulu dibagi-bagi pada orang yang disebut ‘sangiactae’ diamana tiap mereka diberi wilayah tertentu untuk diurusi dimana raja dapat memindahkan mereka sesukanya, sedangkan perancis dikelilingi oleh para bangsawan yang memiliki hak istimewa sendiri dan raja pun tak mau mengusiknya. Setelah memahami 2 jenis pemerintahan diatas dapat disimpulkan bahwa kerajaan turki akan lebih sulit di rebut kekuasaanya tapi mudah untuk mempertahankanya karena mereka harus menguasai tiap wilayah yang diurus oleh para sangiacate, dan andaikan 1 sangiacate mau diajak bekerjasama belum tentu yang lainya akan mau. Dan apabila berhasil ditakluakan maka tak ada yang harus ditakuti kecuali kelurga raj, apabila raja pun sudah dihancurkan, maka tak ada yang lagi yang mengganggu karena para sangicate tak memiliki keuasaan lagi. Kkebalikanya adalah perancis, dengan bersekutu dengan beberapa bangsawan, raja akan dengan mudah di jatuhkan tetapi ketika mempertahankanya akan cukup sulit walau raja sudah dihabisi, masih ada para bangsawan-bangsawan lain yang tidak puas dengan penghancuran itu, akan mencoba untuk merebut kekuasaan kembali.

Ketika suatu daerah yang telah berhasil dikuasai memiliki undang-undang yang telah mereka pakai, ada 3 cara untuk memperthankanya. Pertama adalah dengan merampas milik mereka, kedua dengan menetap disana, ketiga dengan membiarkan mereka menggunakan undang-undang yang sudah ada, dan dirikan pemerintahan disitu dengan beberapa orang yang akan menjadi sekutu anda dari dalam. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan, jika kita melihat kasus yang terjadi pada Fra Girolamo Savonarola, yang gagal sepenuhnya dengan peraturan-peraturan barunya ketika masyarakat mulai ragu padanya, karena pasti ketika membuat peraturan baru, ada orang-orang yang diuntungkan dengan peraturan lama akan mulai membangkang tidak setuju dengan peraturan baru  itu.

Orang-orang besar kadang hanya perlu sebuah kesempatan untuk menaklukan suatu pemerintahan, contohnya Theseus. Dia tak akan bisa menakukan Athena jika waktu itu tidak terjadi perpecahan di dalamnya, lalu Theseus yang pintar mengambil kesempatan itu untuk mengambil alih Athena. Begitupula Hiero Syracause, karena dia dipilih oleh kaumnya yang tertindas sebgai pemimpin mereka.

Terkadang ada kaum Sipil yang menjadi pangeran baru dengan menyuap para penguasa, atau dia menggunakan orang-orang yang menghargainya untuk menjalankan ambisinya. Mungkin memang mudah baginya untuk menguasai daerah, tapi ketika pemerintahanya telah didirikan, akan menjadi seperti pohon yang akar-akarnya tidak kuat dan rapuh, hal ini dikarenakan dia tidak memiliki pasukan yang menyukainya. Kecuali orang itu memang benar-benar jenius dalam hal memimpin. Bisa dilihat apa yang terjadi pada kasus Cesare Borgia yang mendapat kekuasaan dari ayahnya, yang pengaruhnya segera luntur ketika ayahnya sudah tidak berpengaruh.

Ada sebuah istilah ‘kerajaan sipil’, maksudnya adalah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh rakyat sipil ,dimana pemipinya diusung oleh teman-teman seperjuanganya yaitu rakyat sipil. Untuk mendapatkan posisi ini tidak sepenuhnya ditentukan oleh keberuntungan, tapi lebih pada kecerdikan dan nasib baik. Kerajaan sipil ini akan membuat para bangsawan yang tidak dapat melawan kehendak rakyat, mereka akan bersatu dengan rakyat.

Jenis kerajaan terkahir yang dibahas buku ini adalah kerajaan doktriner (dalam hal ini gereja). Dapat diketahui dengan jelas bahwa orang-orang yang memiliki ideology akan melakukan apa saja untuk mepertahankanya. Terlebih jika mereka memiliki seorang pemimpin yang hebat dalam member doktrin-doktrin agma dan kemuliaan, maka orang-orang itu akan menjadi sebuah martyr untuk mempertahankan apa yang mereka percaya, dan sulit untuk mengalahkan mereka.

Milisi dan pasukan bayaran terkadang digunakan untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan. Namun penggunaan pasukan asing atu pasukan bayaran cukup berbahaya karena mereka hanya bekerja karena uang, dan ketika mereka harus bekerja dengan mempertaruhkan nyawa, maka mereka akan kabur. Hal lain yang kurang baik dari pasukan ini yaitu apabila pemimpin mereka cerdas dan cakap, maka mereka hanya akan memikirkan kemuliaan dirinya dan menindas anda, dan jika bukan make pasukan itu akan menjadi penyebab kehancuran anda. Salah satu solusi untuk hal ini, jika pasukan yang disewa berkompeten, maka buatlah undang-undang mengikat agar mereka tidak melenceng dari batas-batasnya. Terkadang suatu Negara yang meminta bantuan pasukan dari Negara tetangganya, pasukan ini disebut pasukan bantuan, pasukan ini sama berbahayanya, jika serangan berhasil maka mereka akan menuntut sesuatu atau bahkan berkhianat dan merebut kekuasaan, jika tidak maka merekapun akan meminta suatu ganti rugi. Oleh karena itu pangeran yang bijaksan tak akan menggunakan kedua jenis pasukan itu, dia lebih suka mengembangkan pasukanya sendiri.

Mempelajari keadaan geografis Negara yang diduduki oleh seorang pangeran sangat penting, dia harus paham seluk beluk dataran tinggi dan rendah, sungai dan rawa, hutan dan padang. Hal ini sangat penting karena dengan itu dia bisa mengatur strategi bagaimana mempertahankan diri apabila ada serangan, dan diapun akan lebih mengenal negaranya sendiri. Untuk melatih pikiran sang pangeranpun harus suka membaca sejarah, cerita orang-orang sukses dimasa lalu, bagaimana mereka bisa menang dan apa penyebab mereka kalah. Seorang pangeran yang bijak takkan berpangku tangan meski pada saat-saat damai.

Seorang pangeran harus mampu untuk bertahan dan berfikir dingin menghadapi cercaan ,hinaan ,serta pujian. Pangeran juga harus mampu menjauhi skandal-skandal yang kelak bisa menjadi alasan jatuhnya kekuasaan. Kehati-hatian perlu ditanamkan dalam diri pangeran untuk hal sekecil apapun. kualitas pangeran pun sama pentingnya. Seorang pangeran haruslah dianggap sebagai seorang yang penuh maaf dan tidak kejam. Pertanyaan yang lazim adalah pangeran harus ditakuti atau dicintai? Memiliki keduanya lebih baik, dicintai pun baik, namun apabila ditakuti dengan ‘benar’ maka itu jauh lebih baik karena rakyat akan lebih patuh padanya, dengan catatan dia di takuti tapi tidak di benci, sedangkan kedua hal itu dapat berjalan bersamaan.

Kehatia-hatian dalam mempercayai orang lain adalah hal yang sangat diperlukan, semua orang mengetahui seberapa terpuji seorang pangeran harus memiliki kepercayaan kepada yang lain dan hidup dengan integritas, dan tidak dengan kelicikan. Ada 2 cara dalam perang : pertama dengan undang-undang kedua dengan kekerasan. Metode pertama dilakukan oleh manusia, dan yang kedua oleh binatang liar. Namun tak pelak kadang metode pertama itu tdk berhasil dan pangeran terpaksa menggunakan metode binatang liar. Seorang pangeran sebenarnya tidak harus memiliki kualitas-kualitas seperti ramah, baik, pemaaf namun sangatlah penting pangeran bisa tampak seolah seperti itu, karena jikalau dia harus menggunakan cara yang buruk maka dia dapat melakukanya. Pangeranpun harus bisa memuaskan rakyatnya, sudah banyak cerita suatu kekuasaan dijatuhkan sendiri oleh rakyatnya. Machiavelli tidak lupa mengingatkan pangeran baru untuk selalu mengetahui motif-motif apa yang mendasari rakyatnya mendukung dirinya menjadi pemimpin yang apabila pangeran tidak mengetahuinya akan berbahaya jika rakyat tidak puas. Serta jangan sampai bermusuhan dengan rakyatmu, karena bantuan asing takkan ada habisnya untuk menggulingkan sang pangeran.

Pemilihan mentri-mentri dalam pemerintahan harus dipikirkan dengan matang, kualitas mentri pun berbanding lurus dengan seberapa baik kah pangeran itu sendiri. Mungkin itu saja yang bisa saya simpulkan dari buku il principle ini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s