IDEOLOGI DALAM PRAKTIK

Oleh : IMMawan M. Salma abdul Aziz              

Tahun 1435 hijriyah, atau dalam kalender masehi 2014, merupakan tahun besar dimana pergolakan politik di Indonesia sedang panas-panasnya dengan diselenggarakanya pemilu untuk memilih presiden dan wakil presiden baru di negeri ini. Berbagai spanduk yang berisi foto para capres tersebar di sudut-sudut jalan dan berbagai lokasi lain diseluruh kota di Indonesia. Mengotori jalan dan pandangan memang, namun dengan alasan untuk mengampanyekan presiden baru dan legitimasi dari KPU, hal ini sah-sah saja dilakukan.

Di tahun ini pula Rakyat Indonesia akan memberikan penilaian pada visi-misi calon prsiden dan calon wakil presiden beserta ideologi yang mereka bawa. Rakyat Indonesia menyambut pesta demokrasi kali ini dengan sangat antusias, lihat saja buktinya di media sosial atau di lingkungan anda. Anda akan menyaksikan betapa gegap gempitanya pesta demokrasi kali ini. Ribuan rakyat bergerak dan bersuara untuk memberikan pendapatnya. Sopir angkot berkicau di jejaring social dan ditanggap dengan serius oleh mahasiswa. Seorang professor berujar tentang situasi politik yang dikomentari dengan bahasa gaul anak muda.

Perdebatan yang terjadi di tahun ini melibatakan dua calon presiden yang mengusung dua ideologi berbeda. Ideologi itu adalah kerakyatan dan soekarnoisme. Ideologi kerakyatan diusung oleh salah satu calon yang dalam kampanyenya selalu mengadakan blusukan dengan pakaian sederhana yang dikenakanya, serta kepahamanya bahwa masyarakat Indonesia ini masih mistis sehingga dibawa pulalah istilah satrio piningit atau juru selamat menurut ramalan jaya baya. Dalam janji-janji dan program kerja bawaanya pun dia sering berbicara tentang kesejahteraan rakyat kecil.

Sedangkan calon satunya pengusung soekarnoisme, dengan setelan jasnya dan gerak geriknya yang menyerupai presiden pertama kita itu. Bersikap tegas, bicaranya lantang, mencita-citakan nasionalisasi aset-aset Negara yang sekarang dikuasai oleh asing. Meskipun banyak tuduhan dari kasus-kasus HAM terdahulu dikaitkan padanya, namun dia sadar bahwa itu masa lalunya dan meyakini bahwa masa depan masihlah suci, sehingga dia bertekad untuk memperbaikinya dengan jalan menjadi presiden indonesia.

 

Dalam pemilu pasti ada kampanye dan pencitraan yang dilakukan oleh media atau tim sukses calon-calon yang berpartisipasi. Namun ada satu cacat dalam sistem kampanye yang berjalan, yaitu black campaign, atau kampanye untuk menjelek-jelekan salah satu calon. Hal tersebut biasanya dilakukan oleh masyarakat pendukung calon yang lainya, para tim sukses, bahkan para mahasiswa yang memiliki kelebihan intelektual turut andil dalam black campaign ini. Saangat disayangkan memang, bahwa sejatinya black campaign ini merupakan anti ideologi. Megapa demikian?

Sejatinya gerakan ideologis adalah gerakan yang mengedepankan kebenaran, rasionalitas, dan pencerdasan, seperti yang dikatakan oleh Ali Syariati. Menurut Ali Syariati , ideologi bersumber dari nilai-nilai kemanusiaan, maka harus menjadikan manusia sebagai makhluk yang tercerahkan. Sebab manusia merupakan gambaran dari wujud tuhan didunia ini1. Ideologi juga dikatakan sebagai gamabran tentang kebenaran sejati, kebaikan, dan keindahan, sesua dengan skema pengetahuan menurt Plato tentang ‘dunia idea’2. Dari dua pendapat diatas jelas sudah kenapa black campaign saya sebut sebagai anti ideologi.

IMM sebagai eksponen gerakan mahasiswa islam harus menganggap hal diatas sebagai rujukan dalam bergerak. Pergerakan IMM tidak boleh dibatasi hanya sekedar wacana-wacana intelektual yang terbebas dari realitas sosial. Apalagi jika gerakan IMM dikebiri hanya seluas tembok-tembok kampus, maka akan terjadi reduksi fungsi gerakan IMM. Melihat tujuan imm yaitu, mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlakul karimah maka sudah sangat wajar jika IMM mengusahankan bentuk perkaderan formal.

DAD sebagai salah satu sistem perkaderan inti dalam IMM merupakan salah satu jalan untuk mewujudkan tujuan berdirinya IMM. Dalam DAD diajarkan pula tentang ideologi dan beberapa prinsip pergerakan. Pengajaran ideologi dalam DAD bersumber pada beberapa pertanyaan seperti: apa itu ideologi? Ideologi apa yang dianut oleh IMM?  Dan sebagainya.

Namun sayangnya, setelah DAD dilakukan masih banyak kader yang tidak tahu bentuk ideologi IMM itu. Dalam bersikap mereka masih seenaknya saja dan jauh dari nilai-nilai keislaman, berdasar fakta ini bisa diambil beberapa kesimpulan, diantaranya bahwa ideologisasi dalam jenjang perkaderan dasar belum tersampaikan dengan benar atau dalam praktiknya terjadi kesalahan bahkan rasa malas untuk bersikap sesuai ideologi tersebut. yang akan berimbas pada pandangan orang tentang identitas gerakan IMM, ‘IMM itu gerakan apa sih?’

Jika kita melihat Tri kompetensi dasar, yang merupakan ranah bergerak IMM, Spiritualitas, intelektualitas dan humanitas, yang notabene merupakan asas IMM dalam bergerak. Apakah nilai-nilai itu juga sudah terealisasi? . Misalkan Spiritualitas, apakah gerak IMM ketika terjadi sebuah kasus pelcehan terhadap agama islam? . intelektualitas, sumbangan apakah yang telah diberikan para kader IMM dalam pencerdasan masyarakat? Atau malah para kader IMM masih sibuk berdiskusi dan debat kusir tentang eksistensi tuhan?. Humanitas, kegiatan sosial yang dilakukan IMM, apakah hanya sebatas baksos yang dilakukan setahun sekali, mengajar anak-anak TPA mengaji?. Sekali lagi praktik dari IMM apakah sudah cukup?.

Dalam sebuah buku yang ditulis World Assembly of Moslem Youth, disitir sebuah hadits nabi yang artinya “hikmah adalah barangnya orang muslim yang hilang, maka ambilah dimanapun kau menemukanya”3. Hadits ini menjelaskan tentang keleluasaan kita untuk mengambil hikmah dimanapun kita menemukanya, entah itu dari orang non-muslim, para diktator, atau para anti tuhan. maka disini coba kita tak usah melihat jauh-jauh pada mereka, namun pada pergerakan-pergerakan islam selain IMM. KAMMI misalnya, dalam segi humanitas mereka sudah merambah ranah internasional. Ketika palestina diserang bertubi-tubi oleh israel, pergerakan itulah yang pertama turun kejalan untuk melakukan munasoroh untuk membantu saudara-saudar muslim kita disana. Inilah salah satu contoh yang bisa kita ambil untuk memajukan IMM. Tak perlu diadopsi bulat-bulat, sistem atau caranya bisa diubah namun esensinya sama yaitu menolong saudara seiman kita.

Dari beberapa contoh dan pertanyaan diatas, bisa kita jadikan sebagai bahan instropeksi bagi sistem perkaderan dalam IMM. Dalam segi ideologi, sistem perkaderan IMM harus mulai mengambil langkah untuk lebih memperdalam lagi pemahaman para kader, sehingga dalam praktiknya akan lebih jelas bahwa inilah IMM, inilah yang IMM perjuangkan, dan ketika sudah benar maka nanti identitas IMM akan mulai terbentuk, karena sampai sekarang penulis sendiri belum tahu identitas dari IMM itu apa.

Langkah-langkah yang harus diambil dalam menguatkan kembali ideologi para kader bisa dilakukan bisa dibagi dalam dua tahap, yaitu penguatan teori dan pengawalan dalam praktiknya. Tahap pertama dalam penguatan teori dilakukan dengan lebih mendalami lagi ideologi sampai ke akar-akarnya. Untuk jelasnya bisa dilihat dalam tabel dibawah:

TABEL REAFIRMASI PENTINGNYA IDEOLOGI

TEORI TUJUAN
Penjelasan dasar-dasar ideologi Kader paham tentang makna ideologi secara universal
Pengenalan ideologi muhammadiyah Kader paham tentang ideologi islam
Penyadaran tentang pentingnya memiliki dan melaksanakan ideologi Menumbuhkan hasrat untuk berideologi
Diskusi tentang pelaksanaan ideologi menyerap aspirasi kader tentang ideologi
Penjelasan antitesis ideologi kader tahu kelemahan dan kekurangan ideologi sehingga sintesis ideologi dapat diemukan
Penjelasan tentang ideologi-ideologi yang ada di dunia kader dapat membanding-bandingkan antar ideologi, juga sebagai suatu wawasan umum
Diskusi penyelarasan ideologi Mengumpulkan serta meluruskan perbedaan-perbedaan pemahaman  tentang ideologi mereka

 

Sedangkan untuk pengawalan dalam praktik ideologi bisa dilakukan dengan pemantauan aktifitas yang dilakukan oleh kader. Ketika ditemukan hal yang tidak sesuai maka diberikanlah koreksi atas perbuatan tersebut.

Dengan dilakukanya dua langkah reafirmasi ideologi diatas dapat menegaskan kembali pentingnya ideologi untuk dipahami dan dipraktikan dengan benar.  Karena seperti kata plato untuk menemukan kebenaran sejati dan keindahan maka perlu adanya ideologi, yang tidak mungkin terwujud dalam praktik yang salah.

Referensi:

1 ideologi kaum intelektual, ali syariati

2 akar-akar ideologi, bagus takwin

3 etika berdiskusi, WAMY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s